Dr Aqua Dwipayana dan Konsistensi Menjalankan Silaturahim Tulus Tanpa Embel-Embel Apapun

0
46

Oleh Erwin Kustiman

MESKI sudah beberapa kali menulis testimoni ihwal kebiasaan unik, konsisten, dan positif silaturahim seorang Dr Aqua Dwipayana, yang kemudian melahirkan banyak serbaneka kebaikan bagi banyak pihak, saya merasa “gatal” untuk merespons curahan lisan yang disampaikan Bapak Kolonel Laut (P) Purn Adi Suyoso kepada Pak Aqua, dan kemudian dipaparkan secara tertulis sebagaimana tercermin pada pesan WA yang saya terima pada Sabtu tadi malam (26/12/2020).

Pada pesan WA tersebut teruntai pesan kekaguman serta penilaian positif Pak Adi Suyoso atas praktik silaturahim Pak Aqua Dwipayana yang kini memang sudah menjadi bagian integral dari kehidupan beliau dan telah berpuluh tahun dijalankan. “Insya ALLAH, saya akan terus konsisten menjalankan silaturahim ini pada sisa usia saya. Bagi saya, tak peduli apa kata orang, memuji atau membenci, saya akan berupaya menjalankan hal ini dengan sebaik-baiknya, bersilaturahim sekaligus Sharing Komunikasi dan Komunikasi,” demikian selalu disampaikan Pak Aqua.

Dalam pandangan Bapak Adi Suyoso, kegiatan mulia Dr Aqua Dwipayana itu merupakan investasi sosial yang besar. “Saya yakin setelah sejak lama melakukannya secara konsisten, sekarang ini Mas Aqua tinggal memetik hasilnya. Buahnya pasti manis sekali,” demikian diutarakan Pak Adi.

“Menariknya yang merasakan manisnya buah dari intensitas silaturahim itu tidak hanya Mas Aqua saja. Banyak orang telah ikut menikmatinya. Mereka selain keluarga – istri Mbak Retno Setiasih serta anak-anak yaitu ananda Alira Vania Putri Dwipayana dan ananda Savero Karamiveta Dwipayana – juga para saudara dan teman-teman. Wujudnya beragam,” tambahnya.

Saat Pandemi Makin Produktif dan Tepat Sasaran

BAGAIMANA konsistensi silaturahim yang dijalankan Pak Aqua Dwipayana, justru sangat tercermin pada masa pandemi Covid-19 yang masih melanda saat ini. Justru pada masa pandemi sekarang ini, aktivitas sosial Pak Aqua jauh berlipat dibandingkan pada “masa normal”.

Pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 Januari 1970 ini bahkan nyaris tak memiliki waktu untuk tinggal di rumahnya di Kota Bogor karena kerap melawat ke berbagai daerah. Kini, di saat ia juga mesti mematuhi aturan berkegiatan di rumah, bukan berarti aktivitasnya menurun. Bahkan mungkin semakin produktif dan tepat sasaran.

“Saya banyak mengontak sahabat-sahabat saya untuk urun rembuk membangun solidaritas sesama anak bangsa. Alhamdulillah, sudah banyak aktivitas sosial dan produkif yang kami lakukan. Yang terpenting dalam situasi krisis ini, kita justru harus menghidupkan solidaritas sosial sebagai refleksi jiwa gotong royong bangsa ini,” ungkap Pak Aqua yang bersahabat erat dengan Kepala Gugus Penanganan Covid-19 Bapak Letjen TNI Doni Monardo, sehingga juga turut memberi atensi atas kondisi saat ini.

Pada masa awal pandemi sekitar bulan Maret 2020, Pak Aqua Dwipayana, misalnya secara rutin mengirim satu ton telur ayam ke kantor Graha BNPB Jakarta tempat Doni Monardo berkantor. Telur sebanyak itu diarahkan untuk pemenuhan gizi sekitar 400 pegawai di sana.

Tak hanya itu, Pak Aqua juga kemudian senantiasa terlibat dalam berbagai program dan kegiatan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang sekarang menjadi Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Ia berkeliling ke berbagai wilayah Nusantara untuk aktif dalam banyak kegiatan sosial serta tentu saja termasuk Sharing Komunikasi dan Motivasi ke berbagai institusi. Dari mulai pendidikan tinggi, Dinas, Badan, Lembaga, BUMN, dan lain sebagainya.

Belakangan Pak Aqua Dwipayana juga aktif mendampingi Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Bapak Irjen Pol Boy Rafli Amar yang menggantikan Irjen Pol Suhardi Alius yang memasuki pensiun. Dua orang petinggi Polri yang dikenal sangat santun dan baik hati tersebut merupakan sahabat dekat Pak Aqua Dwipayana dan mereka kerap bersilaturahim serta menebar nilai-nilai kebaikan.

Jejaring pertemanan yang luas dan melibatkan banyak pihak tak lepas dari perangai dan pembawaan Pak Aqua yang santun dan sangat rendah hati. Beliau juga senantiasa menempatkan diri untuk selalu menyenangkan orang lain.

Bagi penulis, sejatinya, inspirasi terpenting dari sosok seorang Aqua Dwipayana, tak sekadar untaian kalimat jernih dan bernas yang keluar dari mulutnya. Pada sosok Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat Bidang Komunikasi Publik ini kita melihat pesistensi melaksanakan apa yang diucapkannya. Penulis merasakan sendiri bagaimana sosok ramah ini memperlakukan dan berkomunikasi dengan siapapun. Tak ada jarak, alamiah, dan senantiasa mengundang kebahagiaan siapapun lawan bicaranya.

Sangat wajar jika penulis buku super best seller “The Power of Silaturahmi: Rahasia Sukses Menjalin Silaturahmi ini memiliki relasi dan kenalan yang sangat luas, dari pejabat TNI dan Polri, akademisi, praktisi media, bankir, direksi dan komisaris BUMN, serta banyak lagi. Namun, relasi ayah dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana yang sangat kuat dengan para pejabat itu, tak menghalanginya juga untuk bersikap hangat dan “mengorangkan” siapapun.

Royalti dari bukunya, ia gunakan untuk mengumrahkan ratusan orang. Salah satunya adalah Undang Suryaman alias Jack, juru parkir di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad yang membangun TK dan TPA untuk anak-anak miskin di lingkungannya. Upayanya mengumrahkan secara gratis banyak kalangan dari hasil royalti buku dan rezeki lain yang diterimanya terus dilakukan hingga kini.

Senada dengan apa yang disampaikan Bapak Adi Suyoso, bagi saya, hal yang membuat Dr Aqua berbeda dengan kebanyakan orang, silaturahim yang dibangun Pak Aqua adalah silaturahim yang tulus dan ikhlas. Tidak ada embel-embel apapun. Sederhananya, ketika kita menyapa seseorang di media sosial atau silaturahim ke rumah orang, maka bersilaturahimlah dengan tulus. Jangan mengharapkan balasan, atau materi dari proses itu.

“Mas Erwin, inti silaturahmi yang sebenarnya adalah menghargai orang lain. Bukan memikirkan apa yang akan saya dapat tapi memikirkan apa yang dapat saya berikan. Dengan begitu hubungan baik akan tercapai,” ungkap beliau.

Bagi mantan wartawan ini, kekuatan silaturahim tak jarang memunculkan “keajaiban-keajaiban” dalam mobilitas dan aktivitasnya. Salah satunya, ketika ia membutuhkan pertolongan saat ketinggalan pesawat dalam jadwal aktivitasnya yang superpadat. “Melalui silaturahmi saya mendapatkan bantuan yang rasanya tidak mungkin saya dapat, jika tidak memiliki hubungan yang baik,” kata doktor Komunikasi dari Fikom Universitas Padjadjaran ini.

Kesantunan dan Etika Komunikasi Harus Diajarkan Sejak di Pendidikan Usia Dini

SAYA juga kembali teringat pada sebuah pesan yang pernah disampaikan Pak Aqua beberapa tahun lalu. Beliau mengingatkan bahwa untuk memperkuat komunikasi di Indonesia, setiap individu di negara ini perlu secara sungguh dan serius menjaga, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan silaturahim.

“Silaturahim menjadi salah satu cara jitu dan efektif untuk mewujudkan kebersamaan dan mengurangi kesalahpahaman akibat adanya beragam perbedaan. Selama ini kelemahan orang Indonesia pada umumnya adalah kurangnya memelihara silaturahim dengan sesama. Perilakunya masih transaksional. Baik sama orang kalau butuh saja. Padahal jika silaturahim itu selalu dijaga dan dipelihara hasilnya dahsyat dan luar biasa,” ujar Pak Aqua dalam sebuah perbincangan hangat di Kota Bandung.

Oleh karena itu, ia menegaskan, kesantunan dalam berkomunikasi dan menggunakan etika komunikasi harus diajarkan sejak di pendidikan usia dini. Sedangkan orangtua dan guru harus jadi teladan terkait dengan komunikasi. Dengan begitu sejak kecil sudah tumbuh dan terbiasa berkomunikasi secara santun dan beretika. Itu juga wujud menghargai orang lain atau yang diajak komunikasi.

Apa yang disampaikan Pak Aqua terbukti sangat relevan dalam kondisi saat ini. Ketika ruang sosial kita banyak diwarnai silang pendapat dan satu sama lain merasa paling benar sendiri, maka sesungguhnya bangsa ini memiliki masalah dalam soal komunikasi. Kita memerlukan jalinan silaturahim yang bisa menepis berbagai sekat perbedaan. Kita harus meyakini bahwa komunikasi dan silaturahim adalah kunci menyelesaikan polarisasi perbedaan yang tak kunjung mereda.

Dalam setiap tulisannya yang juga beliau share ke sebanyak mungkin kalangan, Pak Aqua juga mendorong kita untuk selalu berpikir dulu sebelum menyampaikan sesuatu atau berbuat suatu hal. Kenapa? “Banyak orang yang merasa tertekan sehingga gampang emosi. Tidak bisa mengontrol dirinya. Biasanya setelah situasinya reda dan tenang baru menyadari kesalahannya. Timbul penyesalan yang mendalam. Nasi sudah menjadi bubur. Meski kesalahan ucapan dan perilakunya telah dimaafkan tapi sudah terlanjur menimbulkan luka batin yang mendalam,” demikian disampaikan Pak Aqua.

Media sosial sejatinya sama saja dengan ruang sosial fisik tempat di mana kita bersua dan berkomunikasi dengan siapapun. Kita harus memiliki pengendalian diri dan jangan pernah menggunakan emosi sesaat yang justru bisa berakibat fatal. Ada sebuah istilah dalam ilmu komunikasi bahwa pesan yang sudah kita sampaikan pertama kali itu berdampak sangat besar.

Kalaupun ada ralat atau revisi, dampak yang dirasakan pertama kali tidak bisa serta-merta terhapus oleh ralat itu. Itulah yang disebut “irreversible effect” dalam komunikasi. “Pikiran dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, demikian peribahasa yang mencerminkan kearifan lokal orang tua kita dulu.

Semoga saja di masa ketika komunikasi begitu mudah kita lakukan dengan perangkat teknologi komunikasi dan informasi, tetap selalu melekat etika, etiket, serta sopan santun berkomunikasi. Sebagamana kerap disampaikan Pak Aqua Dwipayana.

Guru Besar Komunikasi dari Fikom Unpad Prof Deddy Mulyana, MA yang juga sangat dekat secara personal dengan Pak Aqua menegaskan bahwa media sosial bukan panasea atau penyembuh dari berbagai masalah sosial. Pada satu ketika, orang akan kembali pada praktik komunikasi tatap muka. Dan senyatanya itulah inti dari nilai-nilai silaturahim yang dilakukan secara konsisten oleh Pak Aqua Dwipayana selama ini.*

Penulis Corporate Secretary PT Pikiran Rakyat Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here