Memaafkan dan Mendokan

0
4

Jumat tadi malam (30/4/2021) saat sedang silaturahim saya menyimak curahan hati (curhat) pasangan suami istri (pasutri). Tentang salah seorang teman lama mereka yang sikapnya tiba-tiba berubah 180 derajat.

“Pak Aqua kan pakar Komunikasi. Kami mau mendapat masukan sekaligus ingin tahu pandangan bapak tentang perubahan mendadak sikap teman kami tersebut,” ujar mereka senada.

Dengan antusias secara bergantian pasutri yang sangat kompak itu menceritakan kronologisnya. Saya menyimak yang mereka sampaikan.

Saya melihat mereka sangat sabar dan rendah hati menyikapi perubahan sikap temannya itu. Usaha maksimal agar tahu penyebabnya telah dilakukan termasuk mencari tahu kenapa hal itu terjadi.

Ada beberapa dugaan penyebabnya. Namun itu belum valid. Masih persepsi. Terpaksa menduga-duga karena temannya tersebut secara mendadak langsung memutuskan komunikasi.

Didatangi ke tempat tinggalnya. Ditunggu berjam-jam. Hasilnya nihil. Temannya tidak mau ditemui meski ada di dalam rumah tersebut. Pasutri itu teramat sabar. Bahkan sabar sekali.

Mereka ingin di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini tidak ada ganjalan dengan siapa pun. Sehingga bisa melaksanakan semua ibadah dengan hati yang bersih serta perasaan nyaman dan tenang.

“Semua upaya sudah kami lakukan agar dapat kembali berkomunikasi sama teman itu. Namun sampai sekarang belum berhasil. Apa saran Pak Aqua buat kami?” Tanya mereka.

Sangat Terpuji
Dari semua cerita yang mereka sampaikan saya menilai mereka telah berusaha optimal agar hubungannya kembali baik dengan temannya itu. Bahkan mereka mau ‘merendahkan dirinya’ demi terjalinnya silaturahim seperti sediakala.

Hebatnya dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dari sisi ekonomi, pasutri itu jauh lebih tinggi dibandingkan temannya itu. Artinya jika mereka tidak berteman dengan kawannya yang berubah sikap tersebut sama sekali tidak masalah.

Apalagi selama ini mereka banyak membantu temannya itu. Termasuk dari sisi materi yang kalau dihitung jumlahnya lumayan besar.

Namun mereka sama sekali tidak melihat itu. Hanya ingin kembali silaturahim dan bersahabat seperti biasa. Meski mereka merasa tidak bersalah.

Saya menyampaikan bahwa mereka teramat sabar dan upaya yang dilakukan untuk memperbaiki hubungan dengan temannya sudah maksimal. Karena belum komunikasi langsung sebaiknya jangan berpersepsi yang belum tentu kebenarannya.

Saya mengapresiasi mereka karena sikapnya berbeda sekali dengan temannya itu. Meski mereka disakiti, namun sama sekali tidak membalas dengan sikap yang sama. Bahkan yang dilakukan sebaliknya. Sungguh sangat terpuji dan perlu diteladani.

Itu sekaligus menunjukkan bahwa level mereka jauh di atas temannya. Mereka bersikap dewasa, sangat arif, dan bijaksana sekali.

Jangan Remehkan Doa
Agar tidak ada ganjalan di hati sehingga melaksanakan semua aktivitas selama bulan Ramadhan terasa ringan, saya menyarankan kepada mereka secara konsisten melakukan dua hal.

Pertama, langsung memaafkan temannya itu. Meski mereka merasa sama sekali tidak bersalah. Itu sebagai upaya membuang “sampah” dalam diri mereka masing-masing.

Dengan begitu setiap melaksanakan aktivitas, mereka tidak mengingat sikap menyakitkan temannya itu. Juga sudah plong karena dengan ikhlas memaafkannya.

Kedua, mendoakan agar TUHAN ‘menyentuh’ hati dan pikiran temannya itu agar kembali seperti semula. Sehingga temannya sadar bahwa memutuskan silaturahim apapun alasannya tidak baik dan dosa. Apalagi sama kawan dekat.

Bagi TUHAN Sang Pencipta alam semesta sangat mudah melakukan itu. Seperti mengedipkan mata. Dengan hitungan detik semuanya bisa berubah total.

Saya sampaikan agar yakin dengan kekuatan doa. Jangan pernah meremehkannya. Saya selama ini sudah sangat sering melakukan itu termasuk mendoakan orang-orang yang bersikap negatif ke saya.

Hasilnya luar biasa dan dahsyat. Tidak lama kemudian, ada yang hitungan jam berubah drastis. Hingga 180 derajat. Mereka menyadari kesalahannya dan menyesalinya serta dengan serius minta maaf kepada saya.

Pasutri itu menyimak semua yang saya sampaikan. Saya perhatikan mereka jadi lega dan mau melaksanakan saran-saran saya.

“Terima kasih banyak Pak Aqua untuk masukannya. Insya ALLAH kami laksanakan,” ungkap mereka senada dengan wajah ceria.

Memaafkan dan mendoakan itu sangat mulia. Gampang diucapkan dan sangat bisa dilaksanakan. Silakan dicoba dan rasakan hasilnya yang luar biasa.

Semoga TUHAN menyadarkan semua orang yang sampai sekarang masih memiliki ganjalan baik di hati maupun pikiran mereka dengan orang lain. Aamiin ya robbal aalamiin…

Dari Bogor mengawali bulan Mei 2021 ini saya ucapkan selamat berusaha secara optimal mewujudkan hati yang bersih dan pikiran yang positif. Salam hormat buat keluarga. 06.00 01052021😃<<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here