Mengalah Untuk Menang

0
5

Beberapa hari lalu seorang teman tiba-tiba kontak saya. Setelah menanyakan kabar saya, teman itu langsung menyampaikan curahan hati (curhat)nya ke saya.

Sebelum teman itu mengutarakan curhatnya, saya sudah menduga yang akan disampaikan. Terkait dengan tulisannya di salah satu Grup WA dan komentar seseorang atas tulisan tersebut. Ternyata dugaan saya benar.

“Pak Aqua sudah membaca Grup WA (menyebutkan nama Grupnya-pen)? Apakah bapak baca semua yang saya tulis dan komentar Bapak … (menyampaikan namanya-pen). Bagaimana menurut Pak Aqua tentang semua itu? Mohon masukan dan pencerahannya,” ujar teman tersebut.

Setelah menginfokan bahwa kabar kami sekeluarga baik-baik dan selama Ramadhan ini berusaha melaksanakan aktivitar terbaik, saya mengatakan sudah membaca semua tulisannya dan komentar-komentar di Grup WA. Meski tidak menanggapinya secara langsung, namun saya memiliki pendapat pribadi.

Saya sampaikan pandangan saya secara obyektif atas semua itu. Pertama, karena tulisan teman itu merupakan fakta lengkap dengan datanya, sehingga saya mengapresiasinya. Seluruh info yang dikirimkannya dibutuhkan banyak orang.

Dengan membaca tulisannya sehingga para pembaca tahu kondisi sebenarnya yang bakal terjadi. Jika terkait dengan diri setiap orang agar mereka dapat mengantisipasinya.

Jadi informasi itu penting sekali. Jika menilainya secara positif harusnya para pembaca berterima kasih pada penulisnya. Semula tidak mengetahuinya jadi tahu.

Debat Kusir
Kedua, terhadap komentar negatif tentang tulisan itu yang disampaikan seseorang di Grup WA, saya tidak heran. Apalagi selama ini tahu rekam jejak yang bersangkutan.

Orang yang memberi komentar itu selama ini arogan, sombong, sok tahu, dan merasa paling pintar. Selalu beranggapan pendapatnya paling benar. Sedangkan orang lain semuanya salah dan posisinya di bawah dia.

Ironisnya bahkan orang itu sering tidak menghormati senior yang secara pengalaman dan keilmuan jauh di atas dia. Tetap merasa dirinya paling hebat dan lebih pintar.

Akibatnya kalau dia berkomentar di Grup WA jarang ada yang menanggapi. Sudah
membayangkan bakal terjadi debat kusir kalau ada yang komentar. Ujungnya mengeluarkan pernyataan yang tidak enak dibaca.

Teman saya itu nyaris terbawa arus dan emosi membaca komentar atas tulisannya. Dia yang sangat piawai menulis mau menanggapi balik. Namun saya larang.

Saya sarankan agar mengalah untuk menang. Maksudnya tidak usah menanggapi komentar di Grup WA itu yang akhirnya dapat menimbulkan polemik yang berkepanjangan. Apalagi ini di bulan Ramadhan.

Semua anggota Grup WA tahu kualitas diri orang yang  berkomentar itu dan juga perangainya. Meski tidak terucap, mereka pasti menilai negatif atas komentar yang disampaikan.

Komentar Negatif Direspon Positif
Agar tidak berkepanjangan dan menimbulkan polemik yang dapat membuat kedua hatinya terluka, lebih baik komentar negatifnya direspon positif. Dengan mengucapkan terima kasih atas tanggapannya. Cukup itu saja. Selesai dan tuntas.

Kepada teman itu saya tegaskan bahwa levelnya jauh di atas orang yang sombong tersebut. Jika dia menanggapinya, derajatnya jadi turun. Sama dengan orang yang kasih komentar itu. Apakah dia mau disamakan dengan orang tersebut.

Kalau saya karena masih waras, sama sekali tidak mau. Makanya yang terbaik adalah mengalah untuk menang.

Setelah menyimak semua yang saya sampaikan alhamdulillah teman yang semula emosi itu jadi reda. Setuju dengan seluruh yang saya sampaikan dan siap melaksanakannya.

“Terima kasih banyak Pak Aqua. Saya jadi lega dan akan melaksanakan semua saran bapak. Tadinya saya sudah menyiapkan tulisan panjang untuk membalas komentarnya. Setelah menyimak seluruh yang Pak Aqua sampaikan saya putuskan untuk menahan diri dan tidak menanggapinya. Memang benar kata bapak, yang waras harus ngalah. Juga mengalah untuk menang,” kata teman itu penuh semangat.

Saya sangat bersyukur karena semua saran diterima teman itu dan akan dilaksanakannya. Dengan begitu tidak terjadi debat kusir di Grup WA yang kontraproduktif dan disaksikan ratusan orang anggotanya. Alhamdulillah…

Semoga kita selalu bijak berkomunikasi di media sosial termasuk Grup WA. Juga mengutamakan etika dan kesantunan dalam berkomunikasi sehingga tidak ada yang mengalami luka batin. Aamiin ya robbal aalamiin…

Dari Bogor saya ucapkan selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Semoga belajar merdeka dapat secara utuh diwujudkan. Salam hormat buat keluarga. 11.30 02052021😃<<<

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here