Profesi & Kesejahteraan

0
7

Catatan ringan ..
Oleh : Heri Andrian*

31 tahun sudah profesi ini saya lakoni dengan bahagia.

Profesi yang membuat saya dan keluarga bisa melihat banyak negara di benua Eropa, Amerika, Asia & Australia.

Profesi ini juga yang membuat saya dan istri bisa memberangkatkan haji dan umroh orang tua dan adik beradik kami.

Profesi yang sudah membiayai anak anak kami menjadi dokter, sarjana bahkan ada yg bisa melanjutkan S2 di University of Birmingham Inggris.

Profesi yg sudah mengangkat derajat keluarga kami, dan profesi ini pula yg sudah membantu keponakan-keponakan kami bisa sekolah, kuliah dan bekerja.

Masih banyak lagi kontribusi profesi ini dalam kehidupan kami terutama untuk urusan keluarga.

Awal tahun 1990 saya memulai karir sebagai “salesman” mobil Toyota di PT. Astra International, Tbk (Auto 2000). Setelah 30 tahun bekerja tepat 9 Maret 2020 saya pensiun dengan profesi yg sama “salesman” walaupun secara resmi jabatan terakhir saya adalah “Kepala Cabang”.

Sekarang pun profesi saya tetap “salesman” masih berjualan setiap hari sama seperti dulu saat masih jadi karyawan PT. Astra International, Tbk.

Saya mencintai profesi ini dengan sungguh-sungguh.
Profesi yg telah merubah hidup saya.

Saya tidak pernah menyangka bahwa profesi yg dulu banyak dicemooh keluarga dekat dan sebagian masyarakat ini bisa membantu saya meraih dan mewujudkan mimpi dan cita-cita saya saat muda.

Akankah profesi “salesman” ini tetap ada dan menarik ?

Menurut pengamatan saya profesi “salesman” tidak semenarik dulu terutama buat anak anak milenial sekarang ini. Sulit sekali mendapatkan salesman berkualitas. Dalam
dunia yang serba digital ini minat anak muda menjadi salesman semakin kecil.

Dulu tahun 2000 an jika perusahaan besar sekelas Astra International membuka lowongan pekerjaan sebagai salesman maka pelamarnya bisa mencapai ratusan orang sehingga gampang sekali mendapatkan kandidat yang berkualitas.

Tapi kini walk in interview salesman minim peminat, kalo pun ada yang datang kualitasnya jauh dari harapan.

Sementara itu perusahaan besar tetap butuh tenaga penjualan, hampir semua industri masih mengandalkan tenaga penjualan untuk memenuhi target mereka.

Inilah tantangan kedepan untuk para pemimpin perusahaan yang ada di cabang dan Head Office.

Kebijakan dari Head Office yang berorientasi kepada produktifitas dan efisiensi membuat pimpinan cabang kesulitan mendapatkan jumlah ideal salesman yg dibutuhkan sesuai dengan tuntutan di lapangan yg sangat kompetitif.

Kondisi inilah yang membuat banyak pimpinan cabang mengambil jalan pintas dengan merekrut tenaga penjualan freelance tanpa sepengetahuan Head Office.

Mereka sadar sekali bahwa langkah ini sangat beresiko. Tapi tampaknya tak ada pilihan lain, apalagi trend yang terjadi banyak pimpinan cabang yang mengambil langkah ini agar target penjualan mereka bisa tercapai.

Hal inilah yang membuat proses rekrutmen salesman dilakukan asal asalan tanpa seleksi yang ketat. Akibatnya kualitas salesman yang direkrut dibawah standar.

Terjadi degradasi dalam profesi ini. Image profesi salesman turun tajam. Citra salesman mobil yang perlente, kaya, cerdas, helpfull kini sudah jarang terlihat. Salesman sekarang tak lagi secerdas dulu, produktifitasnya rendah, tidak kaya dan yang lebih parah mereka tidak bangga dengan profesinya.

Dalam banyak kesempatan saya berdialog dengan salesman muda saya menangkap kesan bahwa sejak awal memang mereka tidak bangga dan mencintai profesinya.

Wajar saja kalau mereka kurang sukses apalagi perusahaan tempat mereka berkarir memang kurang perhatian dalam membimbing dan memberikan pelatihan.

Dulu banyak sekali salesman yang saya bimbing yang berpenghasilan diatas 30 jt per bulan. Wajar saja kalo mereka mereka bisa sejahtera dan sungguh sungguh mencintai profesinya.

Tapi kini jarang sekali salesman yg bisa berpenghasilan tinggi. Ketatnya persaingan internal dan eksternal serta regulasi perusahaan yang membatasi inventive progresif membuat produktifitas salesman sangat rendah sehingga profesi ini tidak menjanjikan kesejahteraan.

Jika perusahaan ingin profesi salesman ini tetap bisa menjanjikan kesejahteraan maka rekrutmen, pelatihan dan regulasi perlu dibenahi sehingga produktifitas salesman menjadi tinggi seperti dulu yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan.

Tingginya produktifitas team penjualan akan menjadi kunci suksesnya sebuah perusahaan.

Sudah terbukti dibanyak perusahaan banyak sekali salesman yang sukses meniti karir sampai top managemen bahkan ada beberapa yang sampai ke level direksi. Sayangnya info ini tidak tersosialisasi dengan baik.

Milenial zaman now kebanyakan ingin langsung sukses masuk ke level managemen, mereka tidak mau meniti karir dari bawah. Itulah salah satu penyebab profesi salesman kurang peminat.

Saya yakin kedepan profesi salesman ini tetap akan ada dan abadi karena setiap perusahaan pasti membutuhkan omzet penjualan yang merupakan unsur yang sangat penting bagi keberlanjutan dan kesuksesan suatu perusahaan.

Team penjualan yang sejahtera pasti akan menghasilkan omzet penjualan yang besar pula yang pada akhirnya akan meningkatkan produktifitas perusahaan.

Produktifitas yang tinggi menjadi faktor yang sangat penting bagi suksesnya sebuah perusahaan.

Cerita dongeng “Angsa Bertelur Emas” mungkin cocok untuk menggambarkan bagaimana seharusnya pemimpin bersikap.
Wallahuallam bissawab …

Jatimulyo medio April 2021.
Heri Andrian, SE, MM
President IMA – Indonesia Marketing Association
Chapter Bandar Lampung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here