Tahun 2009 saya melaksanakan medical check up di salah satu rumah sakit dan hasilnya sangat mengejutkan. Ya Diabetes. Saya down sekali. Terpikir diusia yang masih sangat produktif sekitar 34 tahun. Sebagai seorang jurnalis saya sudah yakin jika karir akan tamat. Tak ada teman dan tempat untuk bercerita, karena jujur bingung. Hari ke hari penyakit ini semakin parah dan pada tahun 2015 saya harus istirahat total dari pekerjaan saya sebagai jurnalis. Tahun 2018 bulan Januari puncaknya. Komplikasi lima penyakit berat sudah bersarang di tubuh. Diabetes, Pneumonia, jantung, ginjal dan liver.
Bobot tubuh sebelumnya 78 kilogram menyusut tinggal 34 kilogram. Panik, takut dan lainnya menjadi satu. Hampir dua bulan saya berada di rumah sakit. Akhirnya pulang karena sudah tidak tahan lagi di rumah sakit. Nah inilah dimulai ceritanya. Istri saya seorang dokter yang jujur selalu “manut” karena kesibukan dan lainnya saya kerap marah. Usai dari rumah sakit saya janji gak marah lagi dan gantian “manut” apa kata istri.
Saya bukan pengopi dan tidak suka kopi. Oleh istri saya diberi kopi. Sebulan kemudian saya medical check up lagi dan hasilnya bikin kaget, diabetes terkendali, jantung normal, ginjal baik, virus di liver di bawah normal hanya pneumonia alias paru-paru baru berjalan pulih. Akhirnya istri saya buka rahasianya kenapa bisa begitu. Kopi. Ya Cuma kopi. Ternyata ‘beliau” sekarang kerap saya sebut sudah lama mempelajari ini dan dia merasakan sendiri manfaatnya. Cuma karena saya bukan pengopi dia takut membicarakan ke saya.
Setelah mengetahui itu saya bernazar akan menyebarluaskan semangat ngopi sehat ini. Kenapa tidak karena sulit membayangkan rasa sakit yang saya derita. Dan ini menyembuhkannya tidaklah terlalu sulit. Akhirnya setelah empat bulan sudah sehat saya belajar tentang kopi secara serius. Saya belajar di AEKI Jakarta di Jalan Soeroso.
Ini sebenarnya berbanding terbalik dengan keilmuan dan pekerjaan saya sebelumnya yang berlatar belakang jurnalis. Hanya karena kebiasaan wawancara dan menulis untuk menyederhanakan bahasa agar bisa dinikmati pembaca menjadi jalan cepat untuk belajar. Mulai dari budidaya, roasting hingga penyeduhan saya pelajari. Hasilnya WAW banget. Jujur saya gak menyangka bisa menyangrai yang rasa pertamanya deg-degan banget karena bersentuhan dengan mesin, elpiji dan listrik.
Semua dilakukan demi nazar. Supaya semua orang bisa ngopi. Mengapa? Dulu saat saya ditreatmen itu karena terpaksa minumnya. Nah dengan belajar tentang kopi citarasa diubah agar tidak terpaksa, tapi bicara soal manfaat jadi luar biasa. Ini juga sebenarnya terinspirasi oleh Pakar Komunikasi Mas Aqua. Saya selalu membaca tulisannya by WA. Semangat sekali.
Hingga akhirnya saya membranding kopinya dengan nama Kopi WAW dan tempat ngopinya dengan nama Warkop WAW. Keputusan untuk menekuni kopi ini menjadi pilihan awalnya jujur karena saya ingin berbagi sehat. Sudah tidak terpikir lagi pekerjaan, bahkan jurnalis juga sudah nonaktif. Begitu yakinnya dengan profesi baru sebagai toekang sedoeh ini membuat saya terus meriset dan mendevelop kopinya agar terus maksimal.
Alhamdulilah sekarang sudah banyak sekali cabang Warkop WAW salah satunya di UC UGM. Senang karena nazar dan dikerjakan secara serius bisa menghasilkan banya k manfaat. Sekali lagi ilmu jurnalis sangat membantu sekali dalam mengembangkan Kopi WAW dan Warkop WAW. Bahwa komunikasi menjadi penting. Bahwa Jejaring menjadi hal primer untuk majunya usaha dan tentu saja yang utama kualitas barang yang disajikan.
Ada yang bertanya kenapa profesi jurnalis bahkan secara struktural sudah menjadi salah satu CEO ditinggalkan. Jawabannya saya simpel. Ini hidup kedua yang diberikan Allah ke saya, maka kesempatan baik untuk mencari dan membawa “bekal” untuk “pulang”. After sakit saya semakin mengerti tentang manfaat sehat. Nah rasanya dengan kopi Insya Allah saya lebih bisa berbagi. Ketrampilan menulis menjadi hal penting lainnya membantu sekali untuk lebih menyosialisasikan manfaat ngopi sehat.
Lebih bangga lagi Bos Saya Bapak Ardiansyah mendukung penuh keputusan saya. Beliau mendorong saya untuk terus berkarya di tengah keterbatasan soal pisik. Tentu meski sekarang saya sudah sehat tapi tidak lagi bisa seperti dulu. Gak berani dan bernyali. Hehehhe. Bobot saya sudah sangat ideal kisaran 57-60 kg.
Kenapa kudu ada warkop WAW. Karena ditempat inilah semua semangat dan pencerahan diberikan kepada pengunjung yang menderita penyakit seperti saya. Dorongan semangat melalui komunikasi warkop menjadi pendorong banyak sekali pengunjung yang Alhamdulilah sehat. Terutama bagi mereka yang menderita diabetes. Tamu yang datang sekarang ini hampir dari seluruh Indonesia dan juga mancanegara.
Senang karena jika berbagi diniatkan ikhlas hasilnya optimal. Bahagia semakin banyak pengunjung yang terbantu. Bahkan tak jarang membawa teman-temannya ke warkop. Untuk konsultasi ini saya bisa menghabiskan waktu sampai satu harian untuk satu tamu. Kenapa? Saya mengerti betul kondisi psikologis pengunjung, karena dulu pernah mengalami. Karenanya saya gak ingin mereka kecewa. Pola komunikasi inilah yang terus saya pelajari dari Mas Aqua lewat tulisan yang dikirimkan ke saya hampir tiap hari.
Alhamdulilah lagi di Warkop WAW semua dibuka. Kami mengedepankan motto Rahasianya tak Ada Rahasia. Maksudnya semua dibuka di sini. Mulai dari kopinya dijelaskan, bentuk green bean, cara sangrai, sampai cara seduh. Semua diperlihatkan. Gak ingin ada rahasia. Semua dipersembahkan hanya untuk ongkos pulang saja nanti disepertiga umur.
Langkah lain usai lebaran kami akan membuka gerai oleh oleh yang akan diisi oleh teman-teman UMKM. Mereka boleh mengisi di semua jaringan Warkop WAW yang ada di seluruh Indonesia. Oh Iya kami menerapkan sistem franchise tapi bukan seutuhnya.
Penggunaan nama Warkop WAW dimaksudkan untuk tracking agar konsumen bisa mendapatkan kopi WAW. Karena kopi ini dijual hanya via Warkop WAW. Maksudnya adalah agar ada edukasi dan komunikasinya. Saya sepakat sekali dengan Mas Aqua komunikasi menjadi bagian primer.
Karena itu mimpi saya nanti jika ada kesempatan Mas Aqua bisa bertandang ke Warkop WAW dan berkomunikasi dengan pengunjung membagikan semangat. Semangat untuk sehat, semangat untuk ikhlas semangat berpasrah diri dan semangat berbagi. Salam WAW.